Rumah yang Tak Lagi Kau Pulangi
Ada hal-hal yang tidak benar-benar pergi ketika seseorang meninggalkan kita.
Namanya masih tinggal di sudut-sudut rumah, pada kursi yang pernah kau duduki, pada percakapan yang tak sempat kita selesaikan, dan pada malam-malam ketika aku masih refleks ingin menceritakan sesuatu kepadamu.
Dulu, aku mengira kehilangan adalah ketika seseorang berhenti berada di samping kita. Ternyata bukan. Kehilangan adalah ketika aku masih memiliki begitu banyak cerita, tetapi tak lagi memiliki tempat untuk menceritakannya kepadamu.
Kau pergi tanpa membawa seluruh kenangan kita. Sebagian kau tinggalkan di sini, bersamaku.
Aku pernah marah kepada waktu karena membuatmu semakin jauh. Pernah menyalahkan diriku sendiri karena tidak cukup pandai mempertahankan sesuatu yang pernah kita sebut rumah. Namun semakin lama aku mengerti, tidak semua rumah memang dibangun untuk menjadi tempat pulang selamanya.
Ada rumah yang hanya mengajarkan kita bagaimana rasanya diterima.
Ada yang mengajarkan bagaimana rasanya mencintai.
Dan ada pula yang akhirnya mengajarkan bagaimana caranya melepaskan.
Malam ini aku tidak lagi menunggumu kembali.
Bukan karena perasaanku telah benar-benar hilang, melainkan karena aku mulai mengerti bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya. Kadang, bentuk cinta yang paling sunyi adalah